Ramella, wie geht’s dir?

IMG_20130330_110343[1]

mannheim

Ehmm.. mau tanya nih sama yang belajar bahasa jerman, apa yah judul diatas kalau diterjemahkan dalam bahasa indonesia? Hayoo, apa coba? Yang gak belajar juga cek om google deh apa sih terjemahnya? Yuk liat sama-sama

https://translate.google.de/?hl=de&tab=wT#de/id/Ramella%2C%20wie%20geht’s%20dir%3F

aaartinya ternyata,

“Ramella, bagaimana kabarmu? “

Hah? Masa sih? Rasanya masih ada yang perlu diterjemahkan deh, apa coba ? jeng.. jeng.. “Ramella” , apa coba bahasa indonesianya?

“heii, Ramella itu nama kalii, kalau diterjemahkan ke dalam bahasa apapun, ya Ramella” kalian pasti bilang gitu kann?? Hayoo ngaku, ngaku hayo …

Eh, dari tadi saya nulis geje banget ya, maaf, maaf, jadi begini, buka blog hari ini ujug-ujug pingin curhat. Rasanya saya pernah cerita tentang perkenalan dengan seorang ibu berkebangsaan jerman deh dalam tulisan sebelumnya, naah setelah sekali pertemuan itu, ada lagi pertemuan- pertemuan berikutnya yang tidak kami rencanakan.

Saya selalu ingat pesan orang tua di tanah air setiap kali nelpon,

“tinggalkanlah kesan terbaik kepada siapapun yang kau jumpai”

Juga ingat pesan kakak,

“ kau datang ke tanah eropa dengan identitas “rahmatan lil ‘alamin”, Islam,  jangan pernah lepas identitas itu, dan jangan pernah menjadikan citra islam buruk karena ulahmu, inilah dakwah untukmu, menyuarakan dengan sikap mulia tentang kemuliaan islam.”

Yah begitulah, tak banyak yang bisa saya lakukan untuk dakwah di tanah minoritas muslim ini, namun dalam setiap kesempatan saya berusaha bersikap santun kepada siapapun, berusaha untuk tidak merusak citra Islam dengan sifat tercela. Semoga Allah menilainya sebagai ibadah, aamiin.

Pertemuan yang berulang kali memang tidak kami rencanakan, namun pasti Allah rencanakan bukan? Entah kesan apa yang didapat oleh bu Erika pada diri saya, sehingga membuat ia begitu perhatian pada saya, ia sering kali membagi hadiah, bulan lalu saya diberi mantel winter, sepatu winter, gelang, dan banyak lagi, sudah 3 kali  saya dijamu makan siang di rumahnya, suaminya pun tak kalah baik pada saya.

„du bist meine Tochter“ katanya, aiih, terharu rasanya disebut sebagai putri mereka. Halahh, jadi pingin nangis gini keinget ambu en abah, dan tentunya teringat akan kasih Allah yang tiada henti terkucur.

„Rahmah, wie geht’s dir?“  awalnya bu erika dan pak wana menyapa saya demikian, memang seharusnya begitu, saya memang memperkenalkan diri sebagai rahmah, bukan ramella, namun, 3 minggu terakhir via telpon ataupun berjumpa mereka selalu memanggil saya, Ramella.

„Ramella, wie geht’s dir?“ yah begitu, seperti judul tulisan saya kali ini, jadi terjemahan yang betul dalam bahasa Indonesia adalah, „Rahmah, bagaimana kabarmu?“ hehe. (#ngarang)

Banyak sekali kisah yang tersulam antara kami, saya, bu erika, pak wana, dan perkenalan mereka dengan Islam. Terakhir bertemu, bu Erika meminta saya untuk menuliskan satu kalimat dalam bahasa arab untuknya, lantas saya tuliskan kalimat basmallah.

„wie kann man das lesen?“ (-gimana bacanya?-) kata bu Erika.

Sayapun mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, kemudian ia meminta saya menerjemahkan dalam bahasa jerman, tak lama usai kalimat pembuka dalam setiap aktivitas itu saya bacakan, ia menyalin ulang tulisan saya dibawahnya. Ada haru dan harap menyelinap dalam dada,  sekarang mereka masih non muslim, namun semoga bu Erika, pak Wana, dan keluargnaya mendapat taufiq dari Allah, dan semoga saya bisa membagi manisnya Islam kepada mereka. Dan semoga kita senantiasa Istiqamah dalam islam.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“ Ya Allah, Yang Membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku ini agar selalu berada di dalam agama-Mu “  ( HR Tirmidzi )

Iklan
Dipublikasi di Berbagi, Uncategorized | Tag , , , , | 2 Komentar

Gadis dalam cermin

Image

Lama sudah aku tidak melihat dirinya tersenyum manis, gadis itu, aku tahu siapa  dia, gadis ordinary, gadis biasa-biasa saja, tak ada yang begitu istimewa darinya, itu penilaianku, tak tahu orang lain menilai bagaimana, dan akupun tak mau tahu.

Gadis itu sering sekali berpura-pura dihadapan mereka, orang-orang disekelilingnya. Berpura-pura tertawa, berbagi kisah lucu yang membuat lawan biacaranya terkekeh. Disaat yang sama aku bisa merasakan ada sembilu menghujam hatinya, dia memang pandai, pandai sekali menjaga rahasia, banyak sahabat- sahabatnya yang menelpon khusus untuk curhat padanya, inboxnya tak jarang penuh dengan messages berisi curhatan. Aku akui kehebatanya itu, tapi,  ia sama sekali tak berkutik dihadapanku, ia tidak bisa menyembunyikan apa-apa dariku!

Senyumnya ketika membetulkan kerudung, tingkah konyolnya ketika mencoba menggunakan make up lalu terkekeh sendiri yang tak lama kemudian dihapusnya dan dengan pedenya melenggang keluar hanya dengan seulas bedak tipis. Bedak tipispun baru akhir-akhir ini ia pakai, karena mendengar teguran “kalau keluar ya pake bedak, biar gak keliatan lusuh wajahnya” duhh.. parah sekali gadis itu, usianya lebih dari seperlima abad, tahun ini malah genap 21, usia wajar untuk wanita belajar berdandan, tapi bagi dia itu kocak, ah, bukankah tingkahnya lebih kocak?

Aku tahu semua tentangnya, ya, hanya aku! jika saja ia bisa berpura-pura dihadapanku mungkin akan ia lakukan juga. Aku akan menyematkan gelar juara bersandiwara padanya jika ia dapat mengelabuiku, Namun sayang tak bisa, aku selalu tahu, ketika ada luka dalam gores senyumnya, atau ketika ada gelisah dalam gelak tawanya, dan ketika ada rangkaian kisah haru yang ia sembunyikan dibalik cerita serunya, aku tahu, selalu!

Akhir -akhir ini ia jarang tersenyum jujur, tersenyum jujur? Apakah ada tersenyum bohong? tentu saja ada, dia bisa melakukannya, dan aku tahu, sangat tahu. Tentu aku dapat pula membedakan mana senyum jujur yang dari hati, atau senyum yang hanya merenggangkan urat pipi sahaja.

Meski ada beberapa orang terdekatnya yang dapat membaca wajah murung dalam selimut senyumnya ia akan selalu mengelak.

jika ditanya “kok kamu beda? Ada masalah ya?”

“ hehe, iya nih, lagi kangen banget sama keluarga“ selalu itu jawabannya, tidak salah memang, tidak bohong juga, tapi ada banyak yang tidak ia ceritakan, yang menurutnya memang tak perlu untuk diceritakan.

“biar kukecap pahit sendiri, hanya manis yang akan kubagi“ begitu gumamnya dalam hati.

“bukankah Allah tidak menguji diluar batas kemampuan hambaNya? Aku selalu percaya itu, maka tak perlu membuat pengumuman ketika kita ada masalah, bukan begitu?”  gumamnya lagi mencoba berargumen.

Kali ini aku melihatnya dihadapanku, ia mengenakan rok batik warna biru, kemudian memakai tas selempang warna hijau,  membaca ucapan selamat dan do’a dari sahabatnya yang kuliah disebrang kota,

“p.s : Rok batiknya luntur, jd klo nyuci dipisah yahaa.. hihihi..” ia membaca kalimat akhir dari surat yang tak lama kemudian dilipatnya, terkekeh membayangkan melihat tawa sahabatnya langsung, lalu tersenyum, manis sekali, aku tahu dia tengah bahagia, ini jujur, sama seperti ketika ia mendapatkan berlembar-lembar surat dari negeri kecintaannya juga kiriman beberapa buku dari.. hmm.. seseorang., atau ketika kawannya datang untuk membuatkan kue dan nasi kuning, atau juga dapat hadiah kaos kaki dan mug dengan warna kesukaannya, aku sangat tahu, ia gembira, meskipun matanya berembun aku tahu itu embun kegembiraan.

Drrrrrt, telepon genggamnya bergetar, ada pesan masuk, ia tersenyum memang, menghadap ke arahku, aku melihat gurat lain diwajahnya, dan baru kali ini aku taktahu apa makna senyumnya itu, kenapa kau tak bercerita saja, duhai gadis dalam cermin.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

Kesalahan pertama dalam menulis

Hei, sudah lama tak menumpahkan tinta disini, uhuy gayanya! mana ada blog ketumpahan tinta 😛

Gak tahu kenapa akhir-akhir ini males banget nulis. Ide-ide untuk nulis seringkali berseliweran ketika lagi di Jalan, saat duduk sendirian di kereta atau Tram, atau saat membeli daging di toko Turki, bahkan saat  melewati pekarangan rumah orang yang ada pohon cherry dengan buah yang lebat, entah itu ide menulis cerpen atau sekedar share-share gaje kayak sekarang ini. selalu saja ada ide disaat-saat seperti itu.

Setiba dirumah, lupa deh semuanya, setelah masak, mandi, lalu liat tempat tidur yang ada malah ngantuk, kalau enggak malah jadi telponan sama kakak, cerita kejadian sepanjang hari, kalau sudah diceritakan mana seru ditulis lagi kan?

Betul banget, kesalahan pertama dalam menulis adalah tidak segera menuliskan ketika ada hasrat untuk menulis! tapi masa ketika belanja harus duduk dulu terus nulis, apalagi kalau harus berhenti dipekarangan rumah orang yang ada pohon cerry nya, ntar dikira mau nebang tuh pohon, kan bahayaaa! wkwkwk, gak segitunya juga sih.

Maka dari itu meskipun hari ini saya tidak ada ide untuk menulis, akan tetapi demi menghindari kesalahan pertama dalam menulis yang telah saya kemukakan di atas, saya tuliskan saja apa yang terlintas dibenak saya detik ini, tema cerita kali ini adalah.. jreng. jreng…

“tidak ada ide untuk menulis”

Okeh, sudah, selesaai! kali ini saya terbebas dari kesalahan pertama dalam dunia kepenulisan 😛

eh, ini ada bonus deh, di depan rumah  mawar pink lagi mekar-mekarnya nih.

pink rose, edingen

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

I Love Abah

keukenhof

keukenhof, april 13

Sore itu di sebuah taman tulip terkenal, keukenhof namanya, saya baru saja keluar memilih-milih souvenir untuk dibawa pulang, disinilah, tepat didalam gedung oranje nassau saya melihat pemandangan indah nan mengharukan itu, mawar mawar cantik? tulip yang ayu? daffodil yang narsis? bukan, pemandangan seperti itu sudah dapat dinikmati sejak pertama kali masuk melewati poster sambutan “Welkom” yang artinya selamat datang dalam bahasa belanda di gerbang Keukenhof. Yang menarik di oranje nassau saat itu adalah pemandangan seorang anak perempuan berkerudung seusia 5 tahun yang digendong oleh seorang laki-laki yang saya tebak adalah ayahnya, gadis itu menunjukan tulisan,

” I Love Abah”

Ada haru menyelinap dalam sukma, sayapun menghentikan langkah dan secara tak sadar memperhatikan mereka, sangat tampak sekali wajah asia di wajah mereka, ya tentu saja, tidak perlu dilihat dari wajah kita akan tahu mereka dari asia, kata “abah” bukankah hanya dipakai di asia? khusunya Indonesia dan malaysia.

Yang diperhatikan ternyata menyadari kehadiran tatapan mata saya, sang ‘abah’ tersenyum, kemudian bertanya,

“awak dari malaysia?” begitu jika tak salah dengar

saya balas senyumnya seraya berkata,

“bukan pak, saya dari Indonesia”

“………” percakapan kami agak panjang namun segera saya akhiri, karena bis rombongan Rihlah akan segera melaju kembali ke Hannover, Jerman.

Romantisme ayah dan putrinya itu menitiskan titik rindu untuk abah di kampung halaman sana, titis rindu yang memang senantiasa bersemi setiap musim, tidak peduli tengah musim salju, musim gugur atau musim panas, rindu itu selalu menyemi dihati.

“I love abah” kalimat yang dituliskan gadis cilik itu kini kutuliskan terkhusus untukmu, my abah.

Semoga abah selalu dilimpahkan kesehatan dan kebahagiaan, semoga saya bisa membuat abah bahagia, mewujudkan cita-cita abah dan ambu, bersama-sama menginjakan kaki di tanah suci, makkah dan madinnah.

Aamiin Ya Robb.

Dipublikasi di Berbagi, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

Aku ingin pulang

IMG_20130429_210059

Diam, sepi, sendiri, kucoba tetap terseyum dan memang tangispun tidak akan menghadirkan siapapun dalam waktu seperti ini bukan? siapa bilang?! Kemana ilmu tauhid yang kau pelajari? dimana kau tempatkan Allah dihatimu? Apakah hanya karena temaram lampu dipenghujung malam ini yang menemanimu lantas kau katakan sendiri, dan selalu sendiri? Tidak sayang, Istighfarlah dan bukalah kitab sucimu. Kau akan temukan kedamaian, kau akan dapatkan jawaban dari setiap kegelisahan yang menyeruak hingga ubun-ubun, akan kau temukan titisan ketenangan bagai kemarau panjang yang dipertemukan dengan rintik-rintik hujan, percayalah, lakukanlah, baca ayat-ayat cintaNya dengan cinta. Angin yang membelai wajahmu itu Allah ciptakan untuk menghapus air matamu, jutaan bintang itu Allah ciptakan untuk menemani kesendirianmu, senyuman rembulan itupun adalah untukmu… untuk mu sayang, untuk kau fahami bahwa kau tidak pernah sendiri.

Jika kau memang tak bisa mendengar gelak tawa sahabatmu di sebrang sana, dengarlah, ada yang lebih setia dari mereka, yang tak pernah membiarkanmu sendiri, dengarlah detak itu, detak yang sejak lahir Allah anugrahkan untukmu, untuk apa? Untuk kau tafakuri bahwa kau tidak pernah memiliki satu masapun sendiri di fananya alam ini, detak yang lebih setia daripada kisah persahabatan, dari pada kisah percintaan, yang lebih dekat dengan hatimu, tapi sedikit lebih jauh dari telingamu, sehingga sering kau lupa untuk mensyukuri anugrah ini, detak ini hanya akan terdengar kala tak ada detak lain yang menyaingi kelembutan suaranya. Detak yang keberadaanya membuat eksistensimu didunia ini tidak diragukan. Tahukah kau?? Sunyi itu Allah ciptakan agar kau lebih menghargai detak ini. Cinta itu kembali menelisik dalam singkatnya malam bulan Juni di pelataran Eropa, kubaca Al Qur’an, gemericik hujan dipipi membuncahkan rindu itu lagi, sejenak aku kembali diam, menghitung bulan, minggu dan hari, bahkan jam, tak lama lagi akan aku peluk pujaan hatiku, tak lama, tak lama lagi, cobalah untuk sabar. Tiket pesawat telah kubeli, kulihat tanggal kelahiranku sebagai tanggal aku akan memijakan kakiku kembali di tanah Indonesia setelah hampir 2 tahun meninggalkannya. Memang belum terlalu lama jika dibandingkan dengan kisah perantauan Abdullah Khoirul Azzam dalam Ketika Cinta Bertasbihnya kang Abik, tapi aku adalah aku, yang tak kuat menelan pil kerinduan ini terlalu lama. Liburan musim panas yang panjang dan tiket pesawat yang terbilang lebih murah memberikan izin untukku sedikit berani merealisasikan sebuah harapan sederhana, harapan yang lumrah bagi setiap pemilik hati yang diselimuti rindu, „lebaran di kampung halaman bersama segenap keluarga terkasih….“ Terlebih ada yang spesial.. Usiaku genap seperlima abad saat pesawat Emirates mengudara dari Frankfurt menuju persinggahan sementara, Dubai.. tepat dengan seatNr. 28A.

Itulah rencana, yupp.. manusia hanya bisa berencana, tak memiilki satu ketetapanpun yang menjamin pertemuan yang diagendakan itu akan menjadi sebuah kenyataan. Untuk tetap bertemu dengan detak inipun aku tak tahu.

Seperti rencana umi dan bapak yang diutarakannya kemarin via telepon,

„nanti kita jemput dibandara yaah, umi dan bapak mau nyengcelengan (nabung) untuk jemput neng“

Gerimis kembali menghiasi pelupuk mataku, untuk sebuah perjumpaan dengan yang tercinta diprogramkan jauh-jauh hari sebelumnya. Terbayang sudah pelukan hangat umi, ciuman sayang bapak, seyuman teteh dan aa, dan gelak tawa keponakanku, rencana itu begitu indah tergambar meski tak ada jaminan.

Perjumpaan denganNya, sang peniup hawa rindu dan pengabadi kisah cinta, yang merupakan sebuah kepastian, apakah telah kita persiapkan? Kali ini bukan hanya gemericik dan gerimis lagi yang membuat sembab mataku, beralih menjadi hujan deras di pipi saat teringat aku belum memiliki apa-apa, aku belum memiliki bekal untuk berjumpa dengan yang aku bilang „kekasih sejati“. Dalam Rencana dan harapan, terbersit sebuah ketakutan. „umi dan bapak selalu medo’akan neng agar neng sukses“.Tahukah umi, bapak, teteh, aa, gadismu ini, adikmu ini selalu berdo’a agar kalian selalu bahagia, bahagia dengan kucuran cintaNya yang tak pernah henti membanjiri relung hati, bahagia dengan apapun ketetapan yang telah Allah berikan.

Aku berharap kalian akan tetap berbahagia jika sukses yang aku inginkan adalah segera berjumpa dengan kekasih yang selalu menemani, selalu menghapuskan rongrongan kesendirian ini, yang menyeka butir-butir bening yang lahir ketika keresahan menggulung hati, yang mengatakan,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat; Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(Al Baqarah 186)

Kata-kata cinta itu yang mampu menenangkan gegap gempita kegelisahan yang melanda jiwa saat tak ada seorangpun menyertai perjalananan terjal ini. umi, bapak, teteh, aa.. semuanya… aku ingin pulang… ingin segera pulang, Aku ingin pulang dalam keadaan sukses, kesuksekan yang sebenarnya adalah ketika kita pulang keharibaanNya dalam keadaan husnul khatimah , itulah konsep sukses yang terpatri dalam benakku. ya.. aku merindukanNya, semakin hari semakin kupahami dunia hanyalah kesenangan yang semu, kejadian demi kejadian yang memindahkan aku dari suatu tempat ke tempat lain semakin mengingatkan aku bahwa hidup didunia ini hanya singgah saja, hanya berjalan menapaki skenario yang telah Allah gariskan, kadang kita terlena melihat kemegahan- kemegahan tempat singgah kita sehingga lupa bahwa ada saatnya kita pulang. Sebenarnya sama saja bukan seperti singgah di Dubai yang hanya beberapa jam saja? meski disana ada gedung temewah dan hotel termahal, kita hanya bisa melihatnya saja, tanpa memilikinya. Kita ini terlalu sombong hanya karena telah singgah di tempat mewah, padahal tempat pulang kita adalah sama pada akhirnya, hanya saja rute perjalanan kita yang berbeda, untuk sampai ke indonesia dari jerman saja tak hanya singgah di dubai rutenya, ada yang transit di singapore. Betulkah? Tidak, tempat pulang kita ditentukan oleh jalan yang kita tempuh. Tapi tujuan kita sama kan? JannahNya, semoga kita sampai kepada tempat yang keindahannya lebih indah dari apapun yang terbersit dihati, yang kemegahannya lebih megah dari segala yang pernah terlihat, yang kemewahannya jauh lebih mewah dari apa-apa yang pernah kita dengar.

„Dunia ini bagaikan jembatan untuk mencapai pulau impian kita  bernama Akhirat, tidak masuk akal bukan jika seseorang membangun istana megah di jembatan?“

Dan aku termasuk orang yang tak terlalu pandai menjaga hatiku agar tidak tergoda dengan berbagai angan- angan yang hanya berorientasi kebahagiaan dunia, aku juga terlalu lemah untuk terus berlari mengejar kesenangan yang sesaat itu. Maka aku ingin segera pulaang…… Salahkah? Astaghfirullah.. ya Allah maafkanlah aku, aku masih merasa kesulitan untuk membedakan putus asa dengan rindu berjumpa denganMu, jika ini adalah keputusasaan, tolong kuatkanlah aku… kuatkan ya Allah…jauhkan aku dari putus asa.. Lahaula walaquwwata illabillah ….tapi Jika ini adalah kerinduan untuk menatap wajahMu, deraskanlah rasa ini ya Rahim.

Aku adalah sebutir  pasir yang tidak memiliki keistimewaan, tapi aku merasa sangat istimewa karena kalian orang-orang yang istimewa merasa bahagia memilikiku, umi, bapak, teteh, aa, keponakan-keponakanku, aku cukup merasa berarti ketika kalian mengatakan,„tetangga menceritakanmu, mengatakan bangga padamu, sungguh, ibumu, bapakmu dan keluargamu lebih dan sangat bangga padamu sayaang“

Ketahuilah, Aku tak perlu mendengar tentangga bangga, mereka tak pernah tau isak tangis kita, luka-luka yang kita bawa, bisa yang kita telan, jadi apa guna menceritakan mereka bangga padaku? cukup kata-kata yang terakhir yang aku tunggu selama ini, dan akhirnya aku mendapatkannya, terimakasih. Saat ini aku masih harus menginjak paku-paku tajam itu, aku takut, aku takut kata-kata yang pernah indah terdengar itu hilang karena aku tak bisa menjadi mutiara yang selalu menjadi mutiara dimanapun berada, berselimutkan sutra atau pecahan kaca, mutiara tetaplah mutiara dengan cahaya yang memukau pandangan mata. Aku takut umi, takut, langkah kakiku mulai melemah.

Entah bisikan yang baik atau jahat yang tiba-tiba akhir- akhir ini sering melintas dibenaku,„ mungkin ini saat yang tepat aku kembali kepada Pemilikku, sebelum takabur menyinggahi salah satu bilik hati, atau? Telahkah aku takabur dengan merasa menjadi baik sehingga mengatakan ini waktu yang tepat untuk pulang?“ Sebuah harapan atau ……., ahh…lagi-lagi perasaan itu terlalu sulit untuk dideteksi dengan nalar dan logikaku. Allah… jagalah hatiku, jagalah imanku. Keluargaku, Akan kuceritakan satu-satunya hal yang bisa membuat aku tetap berjalan meski taburan duri dihadapan, yaitu, keyakinan bahwa kelelahan dan rasa sakit ini tiidak akan menjadi  abadi jika kita menjalaninya lillah. Seperti apa yang  telah diajarkan kalian bukan? Terimakasih telah mengajariku mengenal Allah, Tuhanku, Tuhan kita, Tuhan Semesta. Aku merindukan kalian, tapi perasaan ini lebih mencengkeram… ahhh.. tapi tidak dibenarkan jika kita mengaharapkan kematian,

“Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian, dan janganlah meminta kematian sebelum datang waktunya. Apabila seorang di antara kalian meninggal, maka terputus amalnya. Dan umur seorang mukmin tidak akan menambah baginya kecuali kebaikan. (HR Muslim).

Baiklah, tapi tidak salah bukan jika aku ingin menitipkan pesan, “Jika suatu hari nanti aku tak sempat meminta maaf atas segala khilaf dan salah, aku mohon maafkanlah … dan aku mohon jangan ratapi kepergianku dengan kesedihan.. tetaplah berdo’a seperti do’a yang dulu mi, pak, teh, a, tetap do’akan agar aku sukses, dan mencapai cita-citaku, juga cita-cita kita, menatap wajahNya di JannahNYa.“

Salam cinta tiada tara, salam rindu yang menggebu.

UntukMu, untuk kalian yang tercinta.

#cerpen tahun lalu, di publish juga di dakwatuna.com , mudah-mudahan manfaat 😉

Gambar | Posted on by | Tag , , | Meninggalkan komentar

Surat maya dari tanah Rantau

wpid-IMG_20130320_203842.jpg

To: Bunda, ayah, dan setiap pemilik sementara hati yang dilanda gelisah

Dengan menyebut asma Allah yang maha Pengasih dan Penyayang

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Semoga kabar bunda, ayah dan segenap keluarga di tanah air tercinta dalam keadaan sehat dan diberkahi Allah, Alhamdulillah karena kasih sayang Allah dan do’a dari semuanya nanda masih bisa bertahan di tanah Rantau ini.

Tangga demi tangga telah nanda lalui, dan kini saat nanda menengok ke bawah rupaya telah begitu jauh, kemudian nanda coba menatap ke atas, berharap sudah semakin dekat puncak impian itu. Nanda terseyum getir, senyum? ya nanda hanya bisa tersenyum dan memang segalanya harus disikapi dengan senyuman, bukan?. Anak-anak tangga yang kian banyak menuju puncak yang tiada batas, itulah yang  nanda lihat saat ini. Kaki yang mulai melemah dan hati yang diraksuki gundah, itulah yang nanda rasa detik ini. Tapi meratapi semuapun sungguh tiada guna, turun lagipun tak mungkin karena tangga waktu yang dipijak sedetik yang lalu telah sirna, tak bisa dilewati lagi. Kini tersisa dua pilihan saja, loncat kebawah dengan resiko berdarah-darah atau terus berjuang melewati anak tangga berikutnya untuk puncak yang tak tentu akhirnya?

Pelajaran yang ditanamkan oleh bunda dan ayah  melalui cinta dan kasih sayang tiada batas tentang spiritual dan keagungan Tuhan membuat nanda memilih pilihan ke dua, berusaha untuk kuat dan berjuang melanjutkan perjalanan penuh liku ini. Meski nanda tahu puncak impian itu masih fatamorgana, nanda berjanji tak akan menghentikan langkah kaki ini sampai  Allah sendiri yang menghentikannya.

Seperti yang selalu bunda dan ayah bisikan, akhir cerita kita telah ditentukan, nanda yakin ada kebahagian yang bukan fatamorgana jika kita melewati lembar kehidupan  ini dengan kesabaran, ketawadhuan, ketaqwaan, dan dengan hati yang selalu terikat denganNya.

Syurga itu ada, tapi mengapa jalan menujunya berliku, penuh duri, pahit, perih dan kadang harus bersimbah darah?

Jawabannya sederhana, karena syurga itu indah, megah dan tak ada lagi didalamnya kalimat gundah.

Terimakasih bunda, ayah, dan segenap keluarga yang telah mengenalkan kepada nanda agama kemenangan ini, Islam. Salam bakti nanda untuk kalian yang tercinta.

Untuk  hati yang kini diselimuti gelisah surat ini kutulis khusus untukmu, yakinlah selalu akan pertolongan Allah, Dia tidak pernah pergi meninggalkanmu, sedetikpun. Dia ada, memihak dan membela. Dia bersamamu, mengasihi dan mencinta. Dalam hela nafasmu, dalam detak jantungmu, dalam getar takutmu, dalam resah dan gundahmu, Dia tengah berbisik “Jangan takut, jangan sedih, ada kebahagiaan abadi  menantimu setelah sakit yang sedikit ini”.

“Sesungguhnya orang- orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka ( dengan berkata) ” Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati” dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Q.S. 41;30)

Tanah Rantau, 20032013

Dipublikasi di Berbagi, cerpen, Uncategorized | Tag , , , , , , , | 2 Komentar

Boykot Produk Israel?

Boykot Produk Israel?

Temans, saya tak akan banyak mendongeng atau menulis cerita fiksi dulu, lagi fokus ujian ceritanya (*alesan,padahal memang males nulis :P), namun meski ujian ngaji tetep jalan dong ya. Oh iya, tadi pas usrah /liqa dibagi link ini, emm.. awalnya berat banget pasti kan ya? bagaimana tidak? Produk-produk yang terdaftar dilist tersebut kebanyakan produk langganan kita! Nestle, Danone en buanyak lagi. Saya sih tidak bermaksud menyetop temans yang memang pecinta produk-produk diatas, namun rasanya jika kita termasuk umat muslim yang kemaren meringis plus nangiis-nangis pas palestine di gempur Israel patut mempertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan dari Produk2 diatas, dan mencari alternative lain. jika memang melepas seutuhnya belum bisa minimalnya dikurangin. Hayuh yang di Indonesia mending cinta produk lokal yah, apalagi kan  kalau makanan, produk lokal lebih okeh. contohnya misro, combro, ganasturi, dadar gulung (harap maklum yah, saya sedang kangen kue2 tradisional indo ;’) .. oh iya sampai terlewat .. dodol nanas khas subang 😛 ).

Sambil menasihati diri saya sendiri tentunya, saya bagi link ini ke teman-teman yang kebetulan nengok tulisan-tulisan tidak penting saya (dan menurut saya kali ini penting, khususnya tentang dodol nanas; Eh :P). Kita gak mau kan ya menjadi sponsor tetap pendukung zionis yang terang-terangan memerangi umat muslim dan membombardir tanah suci yang terdapat mesjid Al Aqsa? tanah syam yang diberkahi, tanah yang terlukis dalam sejarah Isra mi’raj. sejarah kita, umat islam.

Jika memang kita mengaku tak tega melihat kucuran darah para pejuang di tanah Palestine alangkah bijaknya jika sekarang kita mulai mempertimbangkan produk2 yang kita konsumsi.

Silahkan langsung aja berkunjung ke linknya yang memuat lengkap kampanye boykot produk Israel di http://www.inminds.co.uk/boycott-brands.html

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar